Nyanyian Tanah Merdeka

pattunuang teater

Lirik dan lagu oleh Leo Kristi

Seperti satu meriam kala meledak
Seribu bedil adakah berarti Kalau laras laras sudah berbalik
Apalagi kau tunggu saudara
Ayo nyalakan api hatimu
Seribu letupan pecah suara
Sambut dengan satu kata “ Merdeka ! “

Merah putih mawar melati
Merah putih bara hati
Merah putuh mawar hati
Merah putih setiap hati

Bunga-bunga berguguran
Di sana di bawah panji
Tanah airku tanah merdeka

Bunga-bunga berguguran
Di sana di bawah panji
Tanah airku tanah merdeka

Advertisements

dukung kpk di jalanan

Serikat Pekerja Informal yang diinisiasi oleh SIAGA Makassar dan KPRM menggelar aksi penggalangan dana publik untuk pembangunan gedung KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)  di anjungan Losari (2/7/2012). Aksi ini juga berlangsung di Jakarta dan Surabaya, Lampung, yang diorganisasikan oleh UPC – Jaringan Rakyat Miskin Indonesia.

Sebanyak Rp 500.000 dana publik terkumpul dalam waktu 3 jam. Selain itu, Wahyu kordinator aksi menyatakan siap mengirim tenaga kerja jika dibutuhkan untuk pembangunan gedung. Dana tersebut dikirim ke rekening UPC untuk disatukan dan diserahkan langsung ke KPK bersama ICW Jakarta (Kamis, 19/7/2012). Aksi ini merupakan perhatian dan dukungan publik, khususnya kaum muda pada KPK motor pemberantasan korupsi yang terpercaya.

Peringatan Hari Bumi Makassar 2012

Oleh Hasan Bangkit – Ketua Umum SIAGA Makasaar)

Setiap tahun tanggal 22 April diperingati hari Bumi (Earth Day). SIAGA sebagai organisasi kaderisasi pemuda dan masyarakat tanggap bencana dianggap penting mengambil peran di dalam peringatan hari bumi ini. Berdasarkan pemberitaan media pada tahun 2011 – 2012 banyak terjadi bencana alam di Indonesia, khusunya di Sulawesi Selatan. Mulai banjir bandang, tanah longsor, sampai angin puting beliung.

Bencana alam tidak datang begitu saja, tetapi sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia itu sendiri. Misalnya penebangan hutan yang tidak terkendali, pemakain bahan bakar fosil yang berlebihan, dan penambangan besar-besaran oleh perusahaan raksasa sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global.

Masyarakat miskinlah yang sangat merasakan dampak dari perubahan-perubahan ini. Dimana meningkatnya volume air laut, bukan pada musim penghujan saja melainkan di musin kemarau pun air menggenangi pemukiman warga (Banjir ROB). Pemukiman masyarakat miskin yang dominan tinggal di pinggir kali/sungai maupun pantai serta sistem sanitasi yang belum memadai di banyak wilayah kumuh di berbagai daerah dan kota, sehingga dapat berdampak buruk pada masyarakat miskin yang rawan terkena penyakit menular melalui air seperti, diare dan kolera. Hanya aksi nyatalah yang dapat mengurangi resiko terjadinya bencana, misalnya mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, penanaman pohon di sekitar lingkungan kita dan jangan lagi memaku apalagi menebangi pepohonan yang ada di pinggir jalan untuk iklan/promasi produk komersil maupun politik, karena ini dapat mengurangi masa pertumbuhan maupun usia dari pohon itu.

Organsasi Aliansi Masyarakat Tanggap Bencana (SIAGA) akan turun ke jalan guna mempringati Hari Bumi dengan bentuk aksi massa dengan agenda seperti: orasi, musik akustik, aksi mencabut paku – paku yang ada di pohon di sepanjang jalan Andi P. Pettarani, penanaman pohon di sisi jalan, dan mengumpulkan tanda tangan dukungan para pengguna jalan untuk bersama sama memilihara kelestarian lingkungan.

Peringatan Hari Bumi pada hari minggu, 22 April jam 09.00 Wita dipusatkan di Fly Over Tol Reformasi.

“Lasoanging” – “Stormbringer”

Lasoanging*
Datang entah dari mana
Menerpa bagaikan hujan
Lasoanging (stormbringer) menari dalam gemuruh guntur
Awan gelap menggumpal
Memecah siang bolong
Tidak ada guna berlari
Karena dia datang dari arah jalanmu
Menunggangi pelangi
Meretakkan langit
Lasoanging datang
Kematian pun tiba
Kau harus terus berlari
Lasoanging mengejarmu
Dia punya apa saja kau butuhkan
Dia kan membuatmu berdarah
Karena dia datang dari arah jalanmu
*orang bugis menyebut “lasoanging” untuk angin puting beliung
Stormbringer*
Comin’ out of nowhere
Drivin’ like rain
Stormbringer dance
On the thunder again
Dark cloud gathering
Breaking the day
No point running
‘Cause it’s coming your way

Ride the rainbow
Crack the sky
Stormbringer coming
Time to die
Got to keep running
Stormbringer coming
He’s got nothing you need
He’s gonna make you bleed

Rainbow shaker
On a stallion twister
Bareback rider
On the eye of the sky
Stormbringer coming down
Meaning to stay
Thunder and lightning
Heading your way

Ride the rainbow
Crack the sky
Stormbringer coming
Time to die
Got to keep running
Stormbringer coming
He’s got nothing you need
He’s gonna make you bleed

Coming out of nowhere
Drivin’ like a-rain
Stormbringer dance
On the thunder again
Dark cloud gathering
Breaking the day
No point running
‘Cause it’s coming your way

*salah satu judul lagu band hard rock tahun 70-an, deep purple

The Representative Leaders

ghandi220If later we become a mayor, what kind of the city and the governance as we want to happen? This open question is from Wardah Hafidz, former coordinator of the UPC, and human rights activists, who greeted the familiar “mba Wardah” by the urban poor. In Makassar recently, he posed the question on the board KPRM, which is preparing the agenda of an alternative political movement 2013-2018.

  • popular city government leaders
  • city budget pro-poor
  • provision of houses for the poor
  • legalization of the land for people
  • realize the social insurance
  • protect local and traditional markets
  • no more malls and luxury vehicles

A series of answers above reflects the ideal expectation of everybody to the city mayor and his administration in the future. Annual real expectation is uttered repeatedly in seminars, workshops, training, talk shows, public hearings, protest speeches, and conversations in coffeeshop.

Their expectation was ideal because the political system today is indifferent to the constitutional mandate, the state with a government responsibility to protect, shelter, and welfare of the people are genuine and consistent.

Mayor hopes on the shoulders of political parties and politicians today, it seems all too often, even uncomfortable to ask again. So better serve the agenda of Mayor we just struggle.

Our representative leaders for the future, called “wali kita”, who comes from us, who supported and elected by anyone who wants the city and his administration to work on the orders of the constitution, which means the trust of the people suffering.

http://rumahkampungkota.blogspot.com/2012/02/representative-leaders.html

Wali Kita

Jika kelak kita jadi walikota, seperti apakah kota dan pemerintahan yang kita inginkan terjadi? Ini pertanyaan terbuka dari Wardah Hafidz, mantan kordinator UPC, intelektual sekaligus aktivis HAM, yang akrab di sapa “mba wardah” oleh rakyat miskin kota. Di Makassar baru-baru ini, dia mengajukan pertanyaan di atas kepada pengurus KPRM, yang sedang menyiapkan agenda gerakan politik alternatif 2013-2018.

  • pemimpin pemerintahan yang berpihak rakyat
  • anggaran yang berpihak rakyat
  • pengadaan rumah bagi rakyat miskin
  • legalisasi tanah garapan rakyat
  • mewujudkan jaminan asuransi sosial
  • melindungi produk lokal dan pasar tradisional
  • tidak tambah lagi mall dan kendaraan mewah

Sederet jawaban di atas mencerminkan harapan ideal siapa pun pada walikota kota dan pemerintahannya kelak. Harapan yang sebenarnya sudah tahunan diucap berulang-ulang dalam seminar, workshop, pelatihan, talk-show, dengar pendapat, orasi unjuk rasa, dan obrolan di warkop.

Harapan mereka terasa ideal hanya karena sistim politik dewasa ini yang abai pada amanah konstitusi, yakni negara dengan pemerintahannya bertanggung jawab untuk melindungi, mengayomi, dan mensejahterakan rakyat secara murni dan konsekuen.

Menaruh harapan pada pundak walikota dan politisi parpol sekarang ini, rasanya sudah terlalu sering, bahkan sudah tidak nyaman untuk diajukan lagi. Jadi lebih baik dijadikan agenda perjuangan Wali Kita saja.

Wali Kita adalah pemimpin masa depan, yang berasal dari kita, yang didukung dan dipilih oleh siapa saja yang menginginkan kota dan pemerintahannya bekerja atas perintah konstitusi, yang artinya amanah penderitaan rakyat.

Demam Politik “Dimana, Kemana”

“Dimana… dimana … dimana…… kemanaaaa……. kuharus mencari dimana…..” potongan lagu ayu ting ting alamat palsu  yang belakangan ini santer didengar di semua media massa, sepertinya menjadi representative dari perasaan rakyat Indonesia terhadap kata “dimana”. Kata dimana menunjukkan kegiatan untuk menemukan sesuatu, jika dalam lagu alamat palsu maka kata dimana menunjukkan alamat yang tidak jelas, sementara jika kata dimana di dekatkan dengan konteks politik maka kata dimana bisa saja merupakan pencarian pada “dimana” tujuan politik  Indonesia, kegiatan menemukan dalam kata “dimana” dalam lagu alamat palsu sebenarnya secara langsung mengacu pada pencarian tentang sesuatu yang tidak lagi berjalan, seperti “kekasih tercinta tak tahun kemana lama tak datang ke rumah”, pencarian terhadap sesuatu dalam konteks lagu alamat palsu sebenarnya adalah sebuah usaha untuk menemukan kembali sesuatu yang tidak lagi berjalan.  Tulisan ini bertujuan untuk melihat lagu ayu ting ting “alamat palsu” dalam segi realitas politik Indonesia yang tidak tak tahu “rimbanya”,juga tulisan ini tidak sedang menjelaskan dimana dan mau kemana politik di negeri ini namun sebagai pemunculan awal tentang diskursus politik saat yang hanya ditafsirkan sebagai pemilu.

Lagu dan kesepakatan bawah sadar

Sejak di rilis pada tahun 2007 tidak ada yang memperhatikan lagu ayu ting ting, seperti artis lainnya yang tiba tiba saja ngetop ayu ting ting sontak terkenal  di paruh terakhir tahun 2011, ada rentan tahun empat tahun sampai lagu ini terkenal dan dinyanyikan banyak orang, pertanyaan ini bisa saja berkembang menjadi bagaimana lagu ini bisa menarik banyak orang? Seperti apa konteks sosial lagu ini ketika pertama kali dinyanyikan dan kemudian menjadi popular empat tahun kemudian?

Ketika ditanya mengapa kamu menyukai music tertentu dan tidak menyukai music lainnya maka jawaban yang mungkin saja kita terima adalah “karna lagu ini mewakili perasaan saya” atau “lagu ini mengingatkanku tentang sebuah kejadian yang memilukan bagi saya”. Disini kita bisa mengembangkan pemahaman awal kita tentang music  dimana music mampu mewakili perasaan dan membangkitkan kenangan, tentulah pemahaman ini masih lemah tapi secara sederhana kita bisa melompat dari argument ini bagaimana music mewakili kenangan atau perasaan?.

Dalam pemahaman sosial kesepakatan bisa saja terekspresi dalam saluran yang terartikulasi namun juga bisa terwakili dalam sesuatu yang tidak disadari namun terekpresikan. Dalam pemahaman ini orang orang cenderung menyanyikan potongan lagu dalam cara mereka sendiri, seperti saat mencari barang yang lupa di taruh dimana dan menyanyikan potongan lagu dimana… dimana…. Dimana… sambil mencari barang yang tidak tahu kemana rimbanya, atau sekedar menyanyikan dimana.. dimana… dimana….. setelah itu stop, dalam sebuah lagu terkadang orang hanya menghafalkan sesuatu yang terkadang mewakili perasaanya dan membuang potongan lagu lainnya yang sama sekali tidak mewakilinya, lebih jauh lagi kita bisa melihat potongan lagu sebagai sebuah ekpresi yang tidak terartikulasi  dengan baik, sehingga dindendangkan begitu saja kadang tanpa sadar.

Bila diselami lebih dalam potongan lagu dimana…. Dimana… dimana…. merupakan sebua perlambang dari ketidaktahuan, kegalauan atau kebuntuan yang dihadapi seseorang dengan sebuah masalah. Jika kita memahami ini dengan kritis maka kita bisa melihat sejauh mana kegalauan masyarakat dapat diukur dari seberapa banyak orang yang mendendangkan lagu dimana.. dimana.. dimana. Lagu di sini dipahami sebagai sebuah perwakilan dari perasaan yang sementara ini dirasakan baik sadar maupun tidak sadar sebagai sebuah tindakan dari masalah yang sedang dihadapi. Di bagian ini kita menghadapi kondisi yang sama yakni kegalauan.

Dimana dan kemana: politik identitas yang galau

Jiaka lagu ayu ting ting terbit tiga tahun setelah pemerintahan SBY dan ngetop di akhir tahun kedua pemerintahan SBY jilid dua, bukan hanya ayu tingting yang galau mencari dimana, perpolitikan di Indonesia juga sedang resa mencari dimana dan kemana arah politik Negara ini, ketidak jelasan ini menimpah hampir semua tingkatan hirarkis sosial Indonesia mulai dari presiden sampai RT, ketidak jelasan dalam menghadapi kondisi realitas ini terartikulasi kedalam pemahaman masyarakt tentang dimana dan dimana kemana dan kemana.  Jika dalam konteks politik dimana.. dimana … tujuan politik negeri ini, kemana kemana mesti mencari arahnya, jika dalam konteks perwakilan rakyat, dimana .. dimana… mesti mewakili kemana mencari tender bagaimana mencari tender serta bagaimana mencari lading korupsi, dalam konteks masyarakat mikin kota dimana.. dimana.. bisa di terjemahkan kemana mesti mencari beras.. bagaimana mencari kehidupan. Seperti sebuah demam Negara ini diserang demam “dimana” yakni sebuah kondisi dimana ketidak jelasan merasuki semua sendi sendi kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga  tujuan politik sebagai pemecahan masalah sekaligus cara untuk memecahkan masalah malah menjadi hilang. Jika di terjemahkan secara kritis maka pertanyaannya adalah dimana akar masalah negeri ini sampai sampai  kita malah pusing mau kemana kita?.

Yang menarik dari lagu ayu ting ting adalah lagu ini pertama kali di luncurkan dan popular dalam waktu yang berbeda, jika lagu iwan fals di luncurkan maka sontak lagu itu menjadi popular, namun itu tidak sama dengan lagu ayu ting ting lagu ini malah popular empat tahun kemudian. Jika dilihat lebih teliti maka lagu ini malah di luncurkan dan popular di periode pertengahan dari pemerintahan SBY jilid satu dan dua periode dimana masa menunggu malah menjadi kegalauan, namun puncak dari semua ini adalah pertengahan periode kedua dari dua periode pemerintahan SBY rakyat ini mulai sadar kemana arah pemerintahan negeri ini namun masing masing orang menerjemahkan kegalauan ini dengan caranya masing masing, kegalauan ini tidak diterjemahkan secara kritis sebagai sebuah implikas dari tidak jalannya perpolitikan dengan sehat sehingga setiap orang mulai galau, namun mengapa kita cenderung menafsirkan kegalauan ini dengan cara yang berbeda dan tidak jarang  saling menuding siapa penyebab semua masalah ini?.

Media, dan tontonan

Media merupakan sebuah bagian dari system kapitalisme yang menggurita, tujuan dari sebuah media adalah bagaimana mengolah sebuah fakta menjadi isu yang sama sekali berbeda dan dangkal serta menggiri pemahaman pengkonsumsi media kedalam frakmen frakmen yang seolah berbeda, pada tingkatan ini media memainkan sedemikian rupa peran masyarakat sebagai sebuah penonton, dimana sebuah kejadian ditafsirkan sebagai sesuatu yang diluar dari masalah pembaca. Bagaimana  kemacetan dari demonstrasi dibuat sedemikian rupa berbeda dari masyarakat yang tidak berdemo dan akhirnya menciptakan fragmentasi kau, dia, kami, mereka dll. Media sedemikian rupa menciptakan framentasi dan kelas kelas menjadi sangat subtil, selain itu media terkadang menciptakan ketakutan-ketakutan yang diramu sedemikian rupa hingga kita bahkan tidak jarang melihatnya sebagai sesuatu yang terpisah satu dengan yang lainnya, media menekan ruang ruang resistensi menjadi ruang keluarga lebih tepatnya di depan TV bagaimana kita marah pada politisi dan koruptor hanya di depan TV, bagaimana kita berapi-api dalam menolak pemerintahan yang korup hanya di warung kopi, atau bagaimana kita memaki dengan sejadi-jadinya di status jejaring sosial. Sederhananya  media mengubah perlawanan kita kedalam sebuah ruang tontonan yang selama ini hanya menjembatani realitas yang palsu.

Media menekan perlawan masyarakat kedalam ruang-ruang kecil dalam kehidupan dan juga menyelesaikannya ke dalam ruang ruang kecil itu saja.  Sampai disini kita berhadapan pada kegalauan yang berhasil di frakmentasikan kedalam ruang ruang kecil dan sedemikian rupa diciptakan menjadi ruang yang terpisah, sehingga tidak heran jika semua orang atau kelompok berteriak dimana dan kemana untuk menunjukkan kegalauan yang sedang di hadapi seperti kegalauan ayu ting ting tentang kemana dimana mencari kekasih tercinta tanpa mau menerjemahkan semuanya ke dalam sesuatu yang lebih radikal.. Bagaimana mengembangkan dan menarik kembali keresahan ke ruang sosial yang lebih besar adalah sebuah tugas yang masih mesti di pikirkan bersama. Hehehehhehe. Monggo mari memulai. Kwkwkw.

Santiago Sang Pembebas

Ekspresi kaum urban melampaui batas wilayahnya sendiri. Mereka secara bebas menggambar dan menulis ide di atas properti sendiri, di tembok, mobil, perahu, becak, dan sebagainya. Ekspresi mereka vulgar dan lugas. Mereka melukiskan ide, idola, hasrat, dan penegasan diri menyangkut pekerjaan atau pun kebiasaan sehari-hari dengan warna yang mencolok tentunya. Sebagai contoh sebuah perahu bermesin diesel di kota Manado Sulawesi Utara, tertulis “Santiago Freedom” di belakang deknya; boat nelayan, tidak jauh dari pasar Calaca-45, dimana biasanya pelancong bertolak ke Taman Nasional Bunaken. Bisa jadi kreativitas seperti ini hanya ada di Manado.

Para ahli telah lama merumuskan konsep ekspresi bahasa adalah kesadaran historis, lebih dari sekedar retorika, yang mengutamakan praktik berkomunikasi dan bertukar informasi dua pihak. Dan, karena itu pula menarik menelusuri kesadaran historis di balik pesan “perahu santiago freedom”.

Bagi masyarakar Sulawesi Utara, khususnya di kabupaten Talaud, nama dan sebutan Santiago tercatat dalam sejarah sebagai ikon perlawanan terhadap kolonialisme sekira tahun 1670-1675. Sebagai nama tokoh (pejuang), Santiago adalah seorang raja di kepulauan Sangihe yang tewas dihukum pancung oleh penguasa VOC. “Biar saya mati digantung, tidak mau tunduk kepada penjajah”, demikian kutipan kalimat sang hero, yang kemudian diabadikan pada tugu perbatasan Indonesia dengan Filipina di desa Miangas.

Sosok Santiago dijadikan monumen (patung), yang diresmikan Pangdam VII Wirabuana, 20 Agustus 2009 lalu. Pada monumen tersebut terpancang bendera Merah Putih, Piagam PBB dan keputusan protokol Filipina – Indonesia bertanggal 9 April 1928 berisi pengakuan pemerintah Filipina atas pulau Miangas milik NKRI.

Jiwa patriotik Santiago telah diabadikan menjadi markas-markas militer. Misalnya, markas Kodim 1301/Satal. Markas ini dibangun di lokasi eksekusi mati sang raja, yakni di sebuah tanjung di desa Bungalawang, Tahuna. Kemudian pada tahun 1964, nama Santiago diabadikan menjadi Korem 131/Santiago, yang membawahi enam Komando Distrik Militer (Kodim) dan dua Yonif teritorial di Sulawesi Utara dan Gorontalo. Menariknya lagi, markas Korem Santiago merupakan salah satu bangunan Belanda sebagai benda peninggalan sejarah, yang terdaftar dalam objek tujuan wisata kota Manado.

Lebih jauh menelusuri jejak “santiago freedom”, maka anda akan menemukan catatan sejarah yang sangat kaya dan menakjubkan. Paulo Coelho, seorang penulis roman yang tersohor punya cacatan menarik tentang hal ini ketika dia berkunjung ke katedral Santiago de Compostella di Spanyol. Menurutnya, Santiago adalah Saint James, salah seorang dari tiga murid Yesus yang menjadi saksi kebangkitan Yesus bersama Saint Peter dan Saint John. Sedangkan katedral de Compostella yang dibangun oleh raja Alfonso II pada tahun 829, diyakini oleh para pengikutnya adalah tempat pemakaman Santiago. Katedral ini sempat dibumihanguskan oleh pasukan Arab-Muslim pada tahun 997. hingga kemudian dibangun kembali oleh raja Alfonso VI pada tahunn 1075. Pembangunan kembali katedral Santiago ini menandai kebebasan bangsa Spanyol dari cengkeraman peperangan.

Maka benarlah tulisan tangan nelayan perahu bermesin diesel itu. “SantiagoFreedom” yang maksudnya mungkin “Santiago Sang Pembebas”. Sosok Santiago selalu bertalian dengan peristiwa perjalanan, perang, pembebasan, dan patriotisme. Namanya membentang dari daratan Spanyol, Portugis sampai Amerika Latin. Di Peru dikenal sang hero, Carreno Marcelino Santiago, seorang kolonel yang memimpin gerilya (1820-1825) hingga Peru merdeka dari penjajah Spanyol. Oleh para pengagumnya, patriotisme CM Santiago diagung-agungkan sebagai sang pembebas Chili, mengorganisir satu skuadron resimen kavaleri, dan menjadi pemimpin “gerilyawan garda depan” dalam pertempuran akhir Ayacucho. Bahkan, di Malaka, ada benteng Fort Santiago yang dibangun Portugis dari reruntuhan Masjid Melayu kuno dan makam raja-raja Malaka, dibawah perintah Alfonso De Alburquerque pada tahun 1511. Dan, masih banyak lagi kisah dan catatan sejarah yang menjelaskan nama Santiago sebagai Sang Pembebas.

Referensi:

http://www.sulutlink.com/berita2008/90725.htm

http://beritahankam.blogspot.com

http://jakarta-coelho.blogspot.com/search/label/Road%20to%20Santiago